Penulis Cukup Jadi Penulis

Selama ini saya tidak pernah tertarik untuk bertemu dengan penulis manapun (yang saya baca bukunya) secara personal. Selalu ada kemungkinan kecocokan saya dengan bukunya nggak berbanding lurus dengan kecocokan saya terhadap personality-nya. Ini ternyata juga berlaku terhadap hubungan saya secara personal, dengan seseorang yang telah menjadi penulis di masa pertemanan kami. Kecocokan saya terhadap personality-nya belum tentu membuat saya cocok dengan karyanya. Meski karya tersebut jauh dari kata jelek.

Sampai akhirnya beberapa hari lalu saya mendapat kabar lewat email kantor, bahwa salah satu penulis yang saya baca karyanya ternyata bergabung di kantor. Mulut saya membulat, kata ‘oh’ pun sontak keluar. Saya nggak pernah menyangka akan mengalami peristiwa ini. Terdengar lebay, ya? Tapi memang itulah yang saya rasakan saat itu. Apalagi, salah satu karyanya pernah saya jadikan sebagai bahan penelitian dalam tugas akhir mata kuliah analisis wacana.

Tapi kemudian saya sadar, kemungkinan saya untuk berhubungan personal dengannya cukup kecil, kok. Hal yang saat ini, jujur saja, saya syukuri. Tapi entah nanti. Mungkin saja kami akan bergabung dalam satu divisi. Who knows?

Welcome to Dianur’s Territory

Menulis selalu menjadi terapi buat saya untuk melampiaskan emosi. Hal yang udah saya lakukan sejak duduk di bangku sekolah dasar ini masih terus berlanjut hingga kini. Tentu aja dengan bentuk yang berbeda. Mulai dari diary bergembok, jurnal, hingga blog. Bahkan sesekali saya masih melakukannya di atas kertas bekas. Inspirasi dan pemikiran kan, bisa datang kapan saja tanpa mengenal situasi dan kondisi.

Well, ini memang bukan blog pertama saya. Jujur aja, saya termasuk orang yang suka bikin blog-lupa password-bikin blog baru. Tapi, saya berharap blog ini tetap konsisten dengan postingannya. Sejauh ini, saya memutuskan untuk “merapikan” pemikiran yang tumpang tindih dalan beberapa kategori. Selain memudahkan diri sendiri, saya berharap ini bisa memudahkan pengunjung yang tersasar ke blog ini agar nggak semakin tersesat.

So, welcome to Dianur’s Territory, when an experience become a story.

 

* Photo credit by Google