Saya Bukan GADIS Lagi

 

Kalau Anda membuka blog ini untuk mencari cerita 18+ atau genre xxx, maaf mengecewakan. Silakan tekan tombol back dan mencari cerita yang Anda mau. Hihihi…

 

Salah satu impian saya ketika lulus S1 Komunikasi adalah bekerja di majalah GADIS. Nggak tahu kenapa. Padahal ada Kawanku, Go Girl! dan beberapa majalah sejenis (sebagian besar sudah gulung tikar). Tapi, saya melamar ke Femina Group saja, dengan harapan ditempatkan di GADIS.

Juli 2012, sehari setelah sidang skripsi, saya pun apply. Lucky me, sehari kemudian, saya langsung dikirimkan undangan interview dan formulir aplikasi. Saya deg-degan! Pasalnya, saya belum punya ijazah!

 

Kamu Masih Kecil!

Saat itu, saya tetap nekat. Berbekal SKL dan transkip nilai sementara, saya tetap datang ke Gedung Femina. Orang pertama yang harus saya temui adalah Ibu Widarti Gunawan. Karena kepo, saya googling namanya. Ternyata, dia salah satu BOD Femina Group. Saya langsung diwawancara yang punya Femina Group!

Hah, googling nggak membantu. Saya justru tambah deg-degan. Apalagi, saat wawancara, ada pertanyaan-pertanyaan yang saya bingung cara menjawabnya. Pertama, kenapa IPK saya tinggi dan hampir 4? Gimana coba jawabnya? Mau bilang saya pintar? Kok, kesannya sombong sekali. Padahal, saya sendiri nggak tahu bagaimana bisa punya IPK setinggi itu. Hahaha…

Kedua, kok, sudah lulus? Padahal umurnya baru 21. Saya garuk-garuk kepala. Saya nggak pernah ikut kelas akselerasi. Saya juga nggak lulus cepat. Pas 4 tahun. Itu karena orangtua saya memutuskan mendaftarkan anak sulungnya ke SD terdekat saat berumur 5 tahun. Tak lebih.

Ketiga, mau masuk GADIS atau Cita Cinta? Sebelum pertanyaan ini saya jawab, beliau memotong, “ah, kamu masih kecil. Masuk GADIS aja,” putusnya. Lah, saya bisa bilang apa? Saya iya-iya saja. Hahaha…

 

Di-PHP HRD

Meski hanya butuh sehari bagi HRD untuk mengundang saya interview, nyatanya saya harus menunggu dua bulan untuk mendapat panggilan selanjutnya. Saya bahkan sudah hopeless dan sedang dalam proses melamar bagian development program di salah satu bank di Indonesia. Lalu, datanglah panggilan itu.

“Halo, dengan Dian? Saya Didin dari GADIS. Kamu masih berminat gabung, kan?” kata Mbak Didin, Pemred GADIS saat itu. Saved by the call. Saya pun tak jadi terjebak di pekerjaan yang nggak saya sukai!

Ternyata, job test saya nyangkut di HRD dan nggak sampai ke Mbak Didin, calon user saya. HRD-nya resign sebelum sempat memeriksa email jobtest saya. Pantas saja saya tak dipanggil-panggil. Akhirnya, Mbak Didin meminta saya mengirimkan jobtest ke email-nya langsung. Saya pun mengikuti psikotes, dan tak lama setelahnya dipanggil untuk sign kontrak. Feels like dream comes true, heh?

 

Meet the Universe

Banyak yang bilang, dunia kerja adalah dunia yang sebenarnya. Kita akan menemukan berbagai jenis manusia, dengan berbagai karakter, latar belakang, dan cara kerja. Jujur saja, saya sempat minder saat mereka nggak tahu kampus saya. Untirta itu di mana, ya? Padahal, saya dari kampus negeri. Hiks.

Awalnya sulit. Saya belum biasa dengan lingkungan homogen. Yes, hampir 100% karyawannya perempuan. Ditambah, menghadapi drama khas perempuan bukan keahlian saya. But I survive. Di GADIS, saya bertemu dengan orang-orang yang terbuka saat mengkritik dan menerima kritik, juga dengan orang yang hanya berani berbicara di belakang. Saya bertemu karakter pemimpin-pemimpin demokratis, juga bertemu pemimpin yang bossy dan suka teriak-teriak. Saya bertemu dengan orang-orang yang bekerja seperti naik buraq (saking cepat dan fokus pekerjaannya), juga dengan orang-orang yang diganggu sedikit langsung hilang fokusnya. Saya bertemu karakter yang lempeng, juga yang baper. Saya juga bertemu dengan orang-orang yang stylish dan tak menua. Yes, they didn’t age! Bahkan, saya punya teman yang saking mungil dan awet mudanya, sepertinya masih pantas pakai baju SD dan SMP.

Iya, saya bertemu banyak karakter. Baik yang menyenangkan maupun yang menjengkelkan. Baik yang saya sukai maupun yang tidak saya sukai. Tapi, seperti yang orang bilang, dunia kerja adalah dunia yang sesungguhnya. Jadi, orang-orang seperti itu, yang baik maupun kurang baik, akan kita temukan di tempat lain, dengan wajah-wajah berbeda. Kita hanya perlu menyesuaikan diri sebaik mungkin, bukan?

 

Old Couple Relationship Syndrome

Meninggalkan GADIS merupakan sebuah langkah besar. Saya takut! Apakah saya akan bertahan di tempat baru? Mampukah saya? Untungnya, banyak orang yang bilang ini wajar. Seperti meninggalkan hubungan yang sudah bertahun-tahun dijalani, saya pasti takut tak berhasil dengan hubungan yang baru. Untungnya, Kak Egi (salah satu atasan saya) bilang, “aku yakin kamu bisa di tempat baru. Meskipun bawel, kamu belajar dengan cepat soal pekerjaan,” katanya menyemangati. Rasanya, seperti disuntikkan energi positif.

 

Amazing 3 Years 10 Months

Tiga tahun sepuluh bulan yang saya jalani di GADIS memang seperti mimpi. Saya bertemu banyak orang yang selama ini cuma saya lihat di televisi. Saya bahkan bertemu Fedi Nuril, celeb crush saya sejak SMA! Saya bisa ketemu guilty pleasure saya, Ariel, yang, well, nggak ganteng tapi bikin saya nggak bisa menoleh ke tempat lain saking kuat auranya. Salah satu impian saya, jalan-jalan ke luar negeri gratis, juga tercapai di sana. Oh iya, saat punya impian ini, saya berpikir, jalan-jalan ke luar negeri dengan uang sendiri itu biasa. Tapi, tak semua orang berkesempatan menapaki belahan bumi lain dengan cuma-cuma. Makanya, saya bahagia!

Tapi, hidup ini harus berlanjut, kan? Saya memilih pindah. Meninggalkan GADIS yang sudah besar, dan terus semakin besar. Melangkah ke dunia baru, dengan orang-orang baru, dan tantangan-tantangan baru. Saya. Pasti. Bisa.

IMG_20160825_165903

Advertisements