Tips Agar Aplikasi Kartu Kredit Diterima

Setelah mempertimbangkan dari akhir 2014 lalu, saya memberanikan diri untuk mengajukan aplikasi kartu kredit. Seujujurnya saya agak deg-degan ketika memutuskan hal tersebut. Pertama, saya merasa belum butuh-butuh banget, tapi suka sebal kalau kesulitan mem-booking tiket pesawat, hotel, atau barang yang membutuhkan kartu kredit. Kedua, dengar-dengar prosesnya ribet, butuh waktu lama, dan banyak yang ditolak. Tapi, ternyata aplikasi saya diterima. Hei, aplikasi pertama yang saya ajukan langsung disetujui. Tidak pakai ditolak dan menunggu 6 bulan sampai 1 tahun lagi untuk kembali mengajukan. Hore!

Mungkin kalau kita mencari cara aplikasi kartu kredit diterima di mesin pencarian, sudah banyak yang memberikan tips secara teknik. Well, saya tak mengerti dengan hal teknis seperti itu. Tapi, saya punya tips, yang sudah dipraktikkan sendiri, dalam proses pengajuan kartu kredit pertama kalinya.

 

#1 Jujur

Salah seorang teman sempat bercerita, aplikasi kartu kreditnya ditolak. Padahal, penghasilan per bulannya bisa dibilang lebih besar dari saya. Setelah ditanya, dia tergiur tawaran agen kartu kredit yang memintanya me-mark up nominal penghasilan.

Saya? Infokan saja secara jujur berapa digit yang masuk ke rekening saya setiap bulannya. Mereka bukan hanya sekadar ingin tahu, tapi menggunakannya sebagai sumber referensi untuk verifikasi. Jadi, menurut saya, membohongi pihak bank tentang nominal penghasilan (terutama jika anda digaji pihak lain) yang dibayarkan lewat sistem perbankan, termasuk buang-buang tenaga. Ingat, pihak bank pasti akan mengecek rekening dan slip gaji untuk tahu apakah data yang diberikan pengaju valid atau tidak.

 

#2 Online Vs Agen

Ada yang bilang, pengajuan aplikasi kartu kredit lewat agen lebih mudah. Ada pula yang lebih condong menggunakan aplikasi online. Saya sendiri kemarin mengajukan lewat aplikasi online, karena mengira itu akan lebih mudah. Tinggal ketik-ketik-ketik, print aplikasi, kirim via pos. Voila! pengajuan selesai. Ternyata, itu tak semudah yang saya bayangkan. Saya justru merasa seperti bekerja dua kali sampai akhirnya enggan mengurusnya lagi.

Setelah mengirim e-form dan kelengkapan data lewat PO BOX, pihak bank malah menginfokan kalau data yang dibutuhkan belum mereka terima. Alasannya, “yang kirim via pos kan, banyak. Jadi, bla…bla…bla…” Intinya, aplikasi saya terselip di antara ribuan amplop lain yang dikirim ke alamat sama dan mereka terlalu malas mengeceknya. Akhirnya mereka meminta saya mengirimkan kembali lewat pos, dan saya dengan tegas menolaknya. Yes, saya MENOLAKNYA! Enak saja, yang bikin kesalahan adalah pihak bank, mengapa harus saya yang repot? Hemat saya, kalau bank mau menolak aplikasi saya, ya tolak saja. Saya malas mengurus dan tidak seambisius itu.

Ternyata pihak bank bersedia membantu dan mengirimkan agen untuk bertemu. Saya harus mengisi formulir dan tanda tangan kembali. Merepotkan? Iya. Kalau tahu begini, lebih baik saya titipkan saja e-form tersebut ke cabang bank terdekat, seperti yang dilakukan salah seorang teman. Menurut saya, pihak bank sepertinya harus mengganti cara mengirim e-form, sehingga tak perlu mengirim lewat pos, kalau mereka tak punya waktu mencari di antara ribuan amplop lainnya.

Jadi, kalau anda ingin mengajukan aplikasi online, cara pengiriman terbaik adalah melalui cabang bank terdekat. Tak perlu merepotkan diri dengan mengirim via pos. Menghabiskan waktu, menghabiskan tenaga. Kalau mengisi formulir aplikasi dari agen bagaimana? Maaf, saya tidak pernah mencobanya dan tidak bisa membantu.

 

#3 Rekening Sehat

Katanya, kondisi keuangan kita akan dicek oleh pihak bank ke Bank Indonesia. Sederhananya, akan dilakukan cross check di akun bank lain, apakah kita punya rekening dan track record yang bagus atau jelek.

Setelah bertanya pada seorang profesional di bidang keuangan, katanya rekening saya termasuk sehat, karena ada cash flow yang jelas setiap bulannya. Track record saya juga bagus karena tak pernah mengalami kredit macet. Singkatnya, nama saya masih bersih di mata Bank Indonesia. Jadi, kalau anda mengajukan berkali-kali tapi selalu ditolak, sebaiknya diingat-ingat lagi. Pernahkah bermasalah dengan proses kredit atau saat berhubungan dengan pihak bank? Kalau iya, bisa jadi nama anda sudah masuk dalam black list Bank Indonesia.

 

#4 Sabar

Proses aplikasi saya, dari pengajuan sampai disetujui, menghabiskan waktu sekitar 7 minggu. Menurut informasi yang saya baca, ternyata lebih lama dari orang lain. Hahaha… Tapi, saya memang tidak terburu-buru dan memilih sabar menunggu daripada merecoki pihak bank.

Mengapa prosesnya lama? Hei, bank adalah sebuah perusahaan dengan alur kerja yang sistematis. Ada tahapan-tahapan yang harus dilakukan sebelum mengirimkan sekeping kartu kredit ke tangan nasabah. Apalagi, yang mengajukan aplikasi bukan satu-dua orang. Wajar saja kalau untuk melakukan tahap demi tahap membutuhkan waktu 3-7 hari per tahapan. Jadi, sabar saja menanti.

Advertisements

Nasib Siapa Tahu?

Nasib orang memang tidak ada yang tahu. Seorang anak perempuan dari keluarga menengah ke atas, yang saya kira akan menjadi wanita karier yang sukses, justru berakhir sebagai ibu rumah tangga tanpa pendidikan memadai. Ia berjuang mencari biaya sekolah untuk anak-anaknya yang terlahir dari dua ayah yang berbeda, tanpa pernah merasakan indahnya masa kuliah. Justru sempat terancam putus sekolah menengah.

Sedangkan satu anak perempuan lain yang cengeng, canggung, dan berasal dari kalangan menengah ke bawah, justru terus mendaki karier yang tak pernah ia kira, pergi ke tempat-tempat yang tak pernah ia sangka. Ia menjelajahi dunia dengan kacamata baru lewat titel di belakang namanya. Padahal, dulu ia selalu pasrah jika harus berakhir menjadi buruh pabrik di kawasan rumahnya.

Kita memang tidak bisa menentukan nasib seseorang berdasarkan nasib keluarganya. Memang, kita tidak akan pernah bisa memilih untuk terlahir di keluarga seperti apa, miskin atau kaya, terpuruk atau terpandang. Tapi, sebanyak apapun materi orangtuamu, itu tetap milik mereka. Maka, sebenarnya kita tidak punya apa-apa selain diri kita sendiri. Usaha kita lah yang nantinya membentuk kita menjadi seperti sekarang.

Jangan salahkan Tuhan, jangan salahkan nasib, jangan salahkan orang-orang di luar diri kita. Karena apapun hasil yang kita peroleh, adalah imbalan atas apa yang telah kita lakukan.

Materi memang bukan segalanya. Tapi percayalah, kekurangan materi sering membuat banyak orang gelap mata, merasa tidak berdaya, dan menyalahkan Tuhan atas ketidakmampuannya mengubah nasib.

——

Tulisan ini pertama kali di-posting pada tahun 2014 dan diedit seperlunya oleh pemilik blog yang sama. Re-post untuk sekadar mengingatkan, baik diri sendiri maupun orang lain yang membacanya,