Diet Sehat Tapi Enak ala WRP

Beberapa bulan yang lalu, saya sempat panik karena merasa tubuh mulai melebar. Sebenarnya, hal ini tak terlalu saya rasakan hingga saya merasa sering kecapekan saat berjalan menanjak atau beraktivitas lebih banyak. Belum lagi, celana yang saya punya mulai terasa sempit sehingga menimbulkan bekas garis jahitan ketika dilepaskan. Meski mencoba cuek dan tetap enggan diet, akhirnya saya dihadapkan pada kenyataan bahwa berat badan saya mencapai 57kg dengan tinggi hanya 156cm saja. Siapa yang tidak panik ketika berat badan normalmu hanya 45-47kg berubah menjadi hampir 60kg?

Dari situlah saya bertanya-tanya, apa yang harus saya lakukan supaya berat badan kembali normal? Apakah saya harus mulai diet? Apakah saya harus mulai nge-gym? Jujur saja, saya bukan orang yang bisa diet dan nge-gym. Pernah mencoba diet OCD seperti teman sekantor, ujung-ujungnya badan lemas dan seperti orang mau sakit. Mau pergi ke nutritionist untuk dibuatkan menu makan sehat, pasti mahal. Ke gym? Saya pernah mencoba, tapi ternyata setelah tak lagi melakukannya, berat badan saya justru naik drastis. To be honest, aktivitas gym terlalu membosankan buat saya.

Ini produk WRP pertama yang saya coba.

Ini produk WRP pertama yang saya coba.

Akhirnya, setelah browsing sana-sini, saya memutuskan untuk mencoba diet WRP. Ini pun bukan tanpa pertimbangan. Harga menjadi salah satu kendala utama saat itu. Siapa sih, yang mau membeli paket susu untuk enam hari dengan harga sekitar Rp200ribu? Tapi, setelah saya hitung-hitung, sebenarnya itu adalah pengganti makan kita, kan? Jadi, kalau dikonversi ke rupiah dan dihitung per hari, tidak semahal yang saya bayangkan.

Pada 11 Mei 2015, akhirnya diet WRP saya dimulai. Saya baca baik-baik cara penggunaannya supaya mendapat hasil maksimal. Berisi 24 sachet WRP Nutritious Drink rasa coklat dan 12 sachet cookies, WRP 6 Day Diet Pack yang saya beli dapat dikonsumsi selama enam hari. Menurut petunjuk penggunaannya, saya harus meminum WRP Nutritious Drink pada pukul 07.00 pagi, makan cookies pada pukul 10.00, makan siang seperti biasa, makan cookies kembali pada pukul 15.00, dan minum WRP Nutritious Drink kembali pada pukul 19.00. Ini berarti, saya “diharamkan” makan pagi dan malam selama menjalani diet, karena makanannya diganti oleh susu WRP. Well, untuk sarapan, it’s not that hard karena saya memang tidak terlalu suka sarapan berat. Saya lebih suka minum black tea dengan gula atau madu sebagai penambah energi dan konsentrasi. Hal yang berat justru menahan makan malam. Tapi, karena uang makan malam saya sudah dibelikan susu WRP, budget saya pun terbatas sehingga urung membeli makan. Hahaha… Kebetulan saya adalah anak kos, dan ini sebenarnya adalah keuntungan tersendiri bagi anak kos yang mengatur uang dan makan sendiri. Jika saya membeli susu WRP dengan uang makan, berarti uang makan saya sebenarnya sudah terpakai, bukan? Lain halnya kalau saya tinggal bersama keluarga dan disiapkan makan malam setiap pulang kerja.

Meski awalnya mau mengikuti diet sesuai anjuran, kenyataannya saya baru memulai aktivitas kerja pukul 10.00 dan nyawa saya belum terkumpul sepenuhnya pada pukul 07.00. Jadi, saya sesuaikan saja jam minum susu WRP dengan jam makan saya pribadi. Saya baru minum WRP Nutritious Drink pada pukul 10.00 di kantor dan tak makan snack pagi. Siangnya, saya meminum WRP Diet Tea untuk memblokir penyerapan karbohidrat.  Setelah itu, saya makan siang seperti biasa. Barulah pada pukul 15.00 atau 16.00 sore, saya memakan cookies-nya. Lalu, setelah pulang kerja, saya meminum WRP Nutritious Drink kembali sebagai pengganti makan malam.

Pada satu bulan pertama, saya tidak merasakan perbedaan yang berarti. Maklum saja, saya termasuk orang yang malas berolahraga. Jenis olahraga yang saya lakukan adalah olahraga yang bisa dilakukan sambil menonton drama atau film. Hahaha… Jadi, saya cuma melakukan sit up, menggerakkan kaki seperti mengayuh sepeda, atau menaik-turunkan kaki dalam posisi badan miring. Berat badan saya hanya turun 3kg. Tapi, ini jadi suatu awal yang baik karena berarti saya cocok menjalani diet WRP. Saya tak pernah merasa kelaparan atau kehilangan konsentrasi karena kekurangan nutrisi.

Berbekal rasa optimis, saya melanjutkan kembali diet WRP pada bulan Juni dan Juli. Meski puasa, saya tetap menjalankan diet WRP dan menyesuaikannya dengan jadwal berbuka, makan malam dan sahur. Intinya, saya menjalankan diet sesuai yang dianjurkan WRP. Takut bosan dengan rasa yang itu-itu saja, saya mulai membeli WRP Nutritious Drink dalam berbagai rasa, seperti WRP Nutritious Drink Coklat Sereal dan Stroberi. Lalu, pada pertengahan Juli 2015, tepatnya sebelum libur Lebaran, saya menimbang berat badan dan ternyata jarum timbangan menunjuk ke angka 47. Hore, saya turun 10kg dalam tiga bulan!

Setelah tiga bulan menjalani diet dan membandingkan kondisi tubuh sebelum dan sesudah diet, memang ada banyak perubahan berarti. Pertama, saya kembali memiliki tulang pipi dan berwajah oval. Pipi saya jadi terlihat lebih tirus tanpa efek shading sama sekali. Kedua, lingkar pinggang saya mengecil dari 78cm menjadi 68cm. Ketiga, dan ini yang paling saya senangi, lingkar paha saya berkurang 5cm! Ya, memang hanya 5cm. Tapi, hal ini sangat terasa karena celana pendek saya jadi lebih indah dipakai dan tak ada bekas garis jahitan lagi selepas mengenakan celana.

Teman-teman saya pun mulai bertanya-tanya apa rahasia diet saya. Saya hanya menjelaskan kalau saya melakukan diet WRP. Tidak lebih. Bahkan, saya masih sempat cheating dengan makan camilan atau mie goreng saat makan malam.  Saya juga masih suka makan mie ayam, salah satu makanan favorit saya, saat jam makan siang. Saya memang tidak memaksakan diri untuk diet mati-matian. Asalkan berat badan turun, saya sudah senang. Makanya, saat keinginan cheating muncul tak tertahankan, saya turuti. Lagipula, hal itu jarang sekali terjadi dan bisa dihitung dengan jari. Untungnya, saya memang bukan orang yang terbiasa ngemil, jadi tak perlu menahan diri dari godaan gorengan dan berbagai snack lainnya.

Setelah ini, kemungkinan besar saya akan tetap mengonsumsi WRP. Tapi, hanya untuk menjaga agar berat badan saya tetap ideal. Saya juga tak ingin jadi wanita yang kurus, kok. Saya hanya malas kalau harus membeli pakaian baru dengan ukuran lebih besar. Hahaha…

 

Advertisements