Review Musee Platinum Tokyo

Membership Card Musee Platinum TokyoKalau saya terlahir sebagai laki-laki, saya yakin, ketika dewasa, wajah saya akan dipenuhi rambut lebat. Mulai dari kumis, jenggot, sampai cambang. Nggak perlu tuh, repot-repot pakai obat atau lotion penumbuh rambut yang saat ini sedang nge-tren. Asumsi ini muncul begitu saja karena sebagai perempuan pun, pertumbuhan bulu di kulit saya cukup tinggi dibanding teman-teman perempuan saya. Mulai dari bulu kaki, bulu ketiak, sampai bulu halus di area wajah, seperti antara alis, dahi, piltrum, dan pipi.

Nah, berdasarkan hal tersebut, saya seringkali melakukan hair removal treatment di bagian-bagian tubuh tertentu, seperti kaki dan ketiak. Hampir semua jenis hair removal treatment sudah pernah saya lakukan, deh. Mulai dari cukur, waxing, sampai menggunakan hair removal cream. After effect-nya berbeda-beda.

Setelah cukur, saya langsung kaget. Gila! Kenapa bulunya jadi kasar dan tebal? Saat itu jadi kesal sekali. Apalagi, saya nggak googling atau tanya orang lain terlebih dulu. Maklum, saat itu saya masih ABG. Jadi, pengin yang praktis dan murah. Hasilnya? Kapok. Begitu juga setelah menggunakan hair removal cream. Bulu-bulu yang melemas dan rontok sampai tak terlihat bentuk aslinya itu sungguh bikin ngeri! Alhasil, saya pun mencoba waxing dan bertahan cukup lama dengan proses ini. Namun, sakitnya nggak nahan! Belum lagi, beberapa kali saya mengalami ingrown hair yang cukup bikin nyut-nyutan. Lalu, mulai nge-tren IPL atau tindakan laser untuk menghilangkan bulu secara permanen. Wah, bagus ya di kulit, tapi nggak bagus di kantong. Akhirnya saya tersasar di web Musee Platinum Tokyo.

Katanya, treatment di sana nggak sakit dan bisa menghilangkan bulu secara permanen. Kata teman saya, Kak Cia, yang juga treatment di sana, memang begitu adanya. Karena tertarik, saya pun langsung menelepon untuk melakukan reservasi di Musee Platinum Tokyo fX Sudirman.

Kesan pertama saya, tempatnya kecil tapi terkesan profesional. Hahaha… Saya pun diminta mengisi form pendaftaran berlembar-lembar. Meskipun agak merepotkan, dari form itu saya melihat kesan bahwa Musee ingin tahu history mengenai tindakan penghilang bulu sampai kondisi kesehatan customer-nya. Lalu, terapis Musee memberikan konsultasi mengenai siklus pertumbuhan bulu, hal apa saja yang membuat bulu tubuh lebat, efek setiap jenis tindakan penghilang bulu, ingrown hair, dan masih banyak lagi. Tak lupa, mereka juga menjabarkan teknik yang dilakukan di Musee Platinum Tokyo untuk menghilangkan bulu, do’s & don’ts sebelum dan sesudah treatment, dan tentu saja paket perawatan yang mereka miliki. Karena berniat trial terlebih dulu, saya memilih lifetime underarm treatment. Saat itu, kebetulan harganya sedang promo dari Rp900K menjadi Rp500K. Lumayan!

Setelah konsultasi, saya diarahkan ke ruang treatment. There’s nothing special about that. Hanya tempat tidur, loker, rak penyimpan bahan-bahan treatment, dan treatment machine yang tingginya kira-kira 1 meter. O iya, setiap customer memang dilarang mengambil foto di ruang perawatan. Jadi, unfortunately, saya tidak bisa menunjukkan mesinnya.

Sebelum perawatan dimulai, terapis menutup mata saya agar sinar dari mesin tersebut tak merusak penglihatan. Lalu, kondisi kulit dan bulu saya pun dilihat terlebih dulu. Bagi customer yang memiliki bulu dengan panjang lebih dari 2mm, akan dicukur terlebih dulu untuk memudahkan proses perawatan. O iya, disarankan untuk tidak menggunakan deodoran sebelum perawatan. Tapi, jika terlanjur menggunakannya, akan dibersihkan terlebih dulu oleh terapis.

Setelah bulu di ketiak saya dicukur, terapis mengoleskan gel dingin. Lalu, sesi penyinaran pun dimulai. Asli, ini silau banget! Meski saya sudah pakai penutup mata, ternyata sinarnya masih tembus meski sekelebat. Tapi, nggak sakit atau perih, tuh. Hanya sempat terasa cekit-cekit sebentar. Katanya, itu terjadi karena sinarnya mengenai bulu atau rambut yang agak panjang.

Nggak sampai 10 menit, perawatan di kedua ketiak selesai. Sebuah bantalan dingin (I don’t know what it is, tapi kayak tisu basah yang udah dimasukkan ke freezer) diletakkan di tiap ketiak. Adem! Terakhir, ketiak dioleskan lotion. Selesai!

Saat konsultasi, saya diberitahu bahwa bulu ketiak akan rontok dengan sendirinya. Jadi, nggak perlu dicabut dengan pinset, apalagi menggunakan hair removal cream atau waxing. Cukup oleskan lotion yang NGGAK mengandung aloe vera setiap mau tidur agar kulit yang diberikan treatment nggak kering.

Dua minggu kemudian, saya cukup kaget saat melihat bulu ketiak mulai merontok. Kalau diibaratkan lingkaran, setengahnya kosong. Iseng-iseng, saya tarik lembut dengan ujung jari, dan bulunya langsung lepas! Kalau nggak rontok, ya jangan dipaksakan. Untungnya, masih diperbolehkan bercukur kalau pertumbuhan bulunya mulai merasa terganggu.

Overall, saya puas dengan Musee Platinum Tokyo ini. Perawatannya sebentar, hasilnya berproses dan nggak singkat (ya, saya selalu takut dengan hasil yang singkat dan fantastis. Selalu curiga ada apa-apanya dengan hal tersebut). Selain itu, jarak antar treatment-nya juga cukup lama, yaitu sekitar 2 bulan, karena mereka menyesuaikan dengan siklus pertumbuhan rambut. Kalau dilakukan lebih cepat, malah bisa membuat rambut lebih cepat tumbuh. Malas, kan?

O iya, bagi kamu yang mau mendapatkan potongan harga sebesar Rp300K saat perawatan di Musee Platinum Tokyo (di cabang mana pun yang ada di Indonesia), bisa menggunakan member ID saya, 82600556.

Plus

  • Minim sakit. Cuma cekit-cekit sedikit dan sebentar.
  • Perawatannya singkat. Total di dalam ruangan perawatan nggak sampai 30 menit.
  • Hasilnya sudah terlihat dalam 2 minggu.

Minus

  • Penjelasan saat konsultasi terlalu cepat.
  • Kalau nggak ada promo, harganya lumayan pricey.

Retreatment: YES

Saya Bukan GADIS Lagi

 

Kalau Anda membuka blog ini untuk mencari cerita 18+ atau genre xxx, maaf mengecewakan. Silakan tekan tombol back dan mencari cerita yang Anda mau. Hihihi…

 

Salah satu impian saya ketika lulus S1 Komunikasi adalah bekerja di majalah GADIS. Nggak tahu kenapa. Padahal ada Kawanku, Go Girl! dan beberapa majalah sejenis (sebagian besar sudah gulung tikar). Tapi, saya melamar ke Femina Group saja, dengan harapan ditempatkan di GADIS.

Juli 2012, sehari setelah sidang skripsi, saya pun apply. Lucky me, sehari kemudian, saya langsung dikirimkan undangan interview dan formulir aplikasi. Saya deg-degan! Pasalnya, saya belum punya ijazah!

 

Kamu Masih Kecil!

Saat itu, saya tetap nekat. Berbekal SKL dan transkip nilai sementara, saya tetap datang ke Gedung Femina. Orang pertama yang harus saya temui adalah Ibu Widarti Gunawan. Karena kepo, saya googling namanya. Ternyata, dia salah satu BOD Femina Group. Saya langsung diwawancara yang punya Femina Group!

Hah, googling nggak membantu. Saya justru tambah deg-degan. Apalagi, saat wawancara, ada pertanyaan-pertanyaan yang saya bingung cara menjawabnya. Pertama, kenapa IPK saya tinggi dan hampir 4? Gimana coba jawabnya? Mau bilang saya pintar? Kok, kesannya sombong sekali. Padahal, saya sendiri nggak tahu bagaimana bisa punya IPK setinggi itu. Hahaha…

Kedua, kok, sudah lulus? Padahal umurnya baru 21. Saya garuk-garuk kepala. Saya nggak pernah ikut kelas akselerasi. Saya juga nggak lulus cepat. Pas 4 tahun. Itu karena orangtua saya memutuskan mendaftarkan anak sulungnya ke SD terdekat saat berumur 5 tahun. Tak lebih.

Ketiga, mau masuk GADIS atau Cita Cinta? Sebelum pertanyaan ini saya jawab, beliau memotong, “ah, kamu masih kecil. Masuk GADIS aja,” putusnya. Lah, saya bisa bilang apa? Saya iya-iya saja. Hahaha…

 

Di-PHP HRD

Meski hanya butuh sehari bagi HRD untuk mengundang saya interview, nyatanya saya harus menunggu dua bulan untuk mendapat panggilan selanjutnya. Saya bahkan sudah hopeless dan sedang dalam proses melamar bagian development program di salah satu bank di Indonesia. Lalu, datanglah panggilan itu.

“Halo, dengan Dian? Saya Didin dari GADIS. Kamu masih berminat gabung, kan?” kata Mbak Didin, Pemred GADIS saat itu. Saved by the call. Saya pun tak jadi terjebak di pekerjaan yang nggak saya sukai!

Ternyata, job test saya nyangkut di HRD dan nggak sampai ke Mbak Didin, calon user saya. HRD-nya resign sebelum sempat memeriksa email jobtest saya. Pantas saja saya tak dipanggil-panggil. Akhirnya, Mbak Didin meminta saya mengirimkan jobtest ke email-nya langsung. Saya pun mengikuti psikotes, dan tak lama setelahnya dipanggil untuk sign kontrak. Feels like dream comes true, heh?

 

Meet the Universe

Banyak yang bilang, dunia kerja adalah dunia yang sebenarnya. Kita akan menemukan berbagai jenis manusia, dengan berbagai karakter, latar belakang, dan cara kerja. Jujur saja, saya sempat minder saat mereka nggak tahu kampus saya. Untirta itu di mana, ya? Padahal, saya dari kampus negeri. Hiks.

Awalnya sulit. Saya belum biasa dengan lingkungan homogen. Yes, hampir 100% karyawannya perempuan. Ditambah, menghadapi drama khas perempuan bukan keahlian saya. But I survive. Di GADIS, saya bertemu dengan orang-orang yang terbuka saat mengkritik dan menerima kritik, juga dengan orang yang hanya berani berbicara di belakang. Saya bertemu karakter pemimpin-pemimpin demokratis, juga bertemu pemimpin yang bossy dan suka teriak-teriak. Saya bertemu dengan orang-orang yang bekerja seperti naik buraq (saking cepat dan fokus pekerjaannya), juga dengan orang-orang yang diganggu sedikit langsung hilang fokusnya. Saya bertemu karakter yang lempeng, juga yang baper. Saya juga bertemu dengan orang-orang yang stylish dan tak menua. Yes, they didn’t age! Bahkan, saya punya teman yang saking mungil dan awet mudanya, sepertinya masih pantas pakai baju SD dan SMP.

Iya, saya bertemu banyak karakter. Baik yang menyenangkan maupun yang menjengkelkan. Baik yang saya sukai maupun yang tidak saya sukai. Tapi, seperti yang orang bilang, dunia kerja adalah dunia yang sesungguhnya. Jadi, orang-orang seperti itu, yang baik maupun kurang baik, akan kita temukan di tempat lain, dengan wajah-wajah berbeda. Kita hanya perlu menyesuaikan diri sebaik mungkin, bukan?

 

Old Couple Relationship Syndrome

Meninggalkan GADIS merupakan sebuah langkah besar. Saya takut! Apakah saya akan bertahan di tempat baru? Mampukah saya? Untungnya, banyak orang yang bilang ini wajar. Seperti meninggalkan hubungan yang sudah bertahun-tahun dijalani, saya pasti takut tak berhasil dengan hubungan yang baru. Untungnya, Kak Egi (salah satu atasan saya) bilang, “aku yakin kamu bisa di tempat baru. Meskipun bawel, kamu belajar dengan cepat soal pekerjaan,” katanya menyemangati. Rasanya, seperti disuntikkan energi positif.

 

Amazing 3 Years 10 Months

Tiga tahun sepuluh bulan yang saya jalani di GADIS memang seperti mimpi. Saya bertemu banyak orang yang selama ini cuma saya lihat di televisi. Saya bahkan bertemu Fedi Nuril, celeb crush saya sejak SMA! Saya bisa ketemu guilty pleasure saya, Ariel, yang, well, nggak ganteng tapi bikin saya nggak bisa menoleh ke tempat lain saking kuat auranya. Salah satu impian saya, jalan-jalan ke luar negeri gratis, juga tercapai di sana. Oh iya, saat punya impian ini, saya berpikir, jalan-jalan ke luar negeri dengan uang sendiri itu biasa. Tapi, tak semua orang berkesempatan menapaki belahan bumi lain dengan cuma-cuma. Makanya, saya bahagia!

Tapi, hidup ini harus berlanjut, kan? Saya memilih pindah. Meninggalkan GADIS yang sudah besar, dan terus semakin besar. Melangkah ke dunia baru, dengan orang-orang baru, dan tantangan-tantangan baru. Saya. Pasti. Bisa.

IMG_20160825_165903